Ketika Banjir Dijadikan Alat Politik

Image credit: Jaka Santana

Ketika Banjir Dijadikan Alat Politik

Disclaimer:
Artikel ini saya buat bukan karena saya Ahokers, atau kaum Bumi Datar. Tapi karena keresahan saya yang menonton timeline Facebook atau Twitter saya yang isinya mencibir Anies Sandi. Bahkan di reddit, tempat nongkrong saya isinya kebanyakan berita Anies Sandi mulu.

Musim hujan telah kembali, banjir bermunculan di mana-mana, bukan hanya di Jakarta, namun juga di deket rumah saya, yaitu di Bekasi.

Uniknya di Jakarta, banjir selalu menjadi alat politik, ayolah, ga perlu naif. Saya bukan membela Anies Sandi, merekamah ga perlu dibela-bela, tinggal tunggu saling berantem aja.

Mari lihat waktu gubernur sebelumnya, pak Ahok dicibir oleh pendukung lawan politiknya, karena masih ada banjir di beberapa titik. Makanya ga aneh ketika sekarang Anies Sandi (saya bingung siapa sebenernya Gubernur Jakarta, maka sebut Anies Sandi aja), maka ga aneh ketika sekarang giliran Anies Sandi bales dicibir.

Pemberitaan tentang banjir Jakarta ini tentu bisa dipakai lawan politik Anies Sandi untuk menjatuhkan. Uniknya lagi, tidak hanya elite politik, tapi masyarakat yang sudah terpecah menjadi pendukung salah satu pasangan di Pilkada kemaren, saling mencibir di dunia maya.

Kalau opininya, banjir sekarang karena Ahok dulu, maka dulu juga pak Ahok bisa bilang hal yang sama, banjir karena gubernur sebelumnya. Padahal masalah banjir di Jakarta itu sudah ada semenjak zaman Tarumanegara.

Saya yakin gubernur-gubernur itu melakukan sesuatu untuk menanggulangi banjir, iya lah, karena banjir di Jakarta merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan program gubernur. Kalau engga ada penanganan, gimana mau maju jadi Capres? Apalagi sebenarnya terlalu dini untuk mencibir Anies Sandi, karena mereka menjabat menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur baru aja Oktober kemaren, ini aja belum tahun 2018.

Dari hasil cibir mencibir itu kemudian saya pahami, bahwa sebenarnya orang-orang kita itu engga begitu peduli sama masalah banjir, mereka hanya peduli pada pemberitaan yang negatif.

Kebanyakan dari kita malah sibuk mencibir dan menyelamatkan rumahnya sendiri, bukan fokus pada masalah, kenapa banjir bisa terjadi. Kemudian yang ada kita malah menyalahkan pemimpin daerah. Bahkan pemimpin daerahpun saling menyalahkan. Jadi ya gitu terus, kita sibuk saling menyalahkan, bukan sibuk menanggulangi.

Ya iyalah, banjir itu kan tanggungjawab pemimpin daerah. Jadi serahkan aja dong pada pempimpin daerah dan juga kepada orang-orang yang memilih mereka di pilkada kemaren. Begitu terus setiap ada pemimpin daerah baru, seolah-olah hal itu adalah tanggungjawab yang menang Pilkada dan para pendukungnya.

 

Related Posts