Megapiksel Bukan Segalanya

Masih berpikir kalau kualitas foto smartphone kamu kurang bagus?

Pada suatu hari, saya mendengarkan percakapan teman kantor saya. Kok hasil foto hapenya engga bagus ya? Padahal kameranya 13mp lho. Apakah kamu juga pernah mendengarkan hal seperti itu? Atau bahkan kamu termasuk orang yang mempertanyakan kualitas kamera hape 13 megapikselmu?

Salah satu acuan ketika memilih hape canggih (smartphone), tentunya adalah kita melihat kemampuan kameranya. Apakah kamera belakangnya bisa mengambil gambar yang bagus untuk foto pemandangan, orang, atau binatang. Kemudian apakah kamera depannya juga bisa menghasilkan gambar yang bagus untuk foto selfie atau grupie. Biasanya setelah itu baru kita memilih kemampuan hardware-nya. Kalau saya perhatikan, sebenarnya kita mengincar smartphone yang bisa memotret dan kualitasnya mendekati kamera poket digital. Apakah memang benar seperti itu?

Kebiasaan Masyarakat Kita dalam Memilih Smartphone

Secara umum, cara mudah untuk menentukan kualitas kamera smartphone itu gampangnya kita melihat besaran megapiksel kameranya. Untuk saat ini besaran megapiksel tertinggi kisaran 16mp (atau bahkan lebih, saya kurang memperhatikan besaran megapikselnya). Rata-rata smartphone terutama yang flagship memiliki besaran megapiksel yang besar-besar, depannya 5mp dan belakang 16mp. Kemudian mereka (produsen smartphone) menawarkan fitur-fitur lain pada kamera smartphone mereka, bahkan ada produsen smartphone yang membawa nama besar produsen kamera supaya orang-orang makin tertarik membeli produk smartphone mereka.

Lantas, apakah hasil foto kalian makin bagus? Untuk beberapa orang mungkin merasa ada perbedaan yang signifikan (halah) ketika membandingkan kamera yang megapikselnya besar dan yang kecil, terasa ada perbedaan kualitas di sana. Buat yang kaya dan kebetulan memang sangat mampu membeli smartphone flagship yang mahal-mahal, sangat merasakan perubahan kualitas foto yang dihasilkan dibandingkan smartphone lamanya yang lebih murah tentunya. Lalu apa yang terjadi ketika kita yang tidak membeli smartphone flagship karena harganya lumayan bikin pusing? Akhirnya kita membeli smartphone yang lumayan mahal tapi masih terjangkau yang menawarkan megapiksel yang besar.

Apa yang Salah?

Ada kesalahpahaman di sini, megapiksel yang besar tidak menentukan hasil foto yang bagus. Megapiksel yang besar bagus untuk foto yang dicetak di majalah atau media cetak lainnya seperti poster, banner, dan baliho—tentunya kalau pemrosesan gambar dari kameranya bagus. Tapi apakah pembeli smartphone berencana untuk mencetak hasil fotonya ke majalah? Tentu tidak, orang akan menggunakan kamera yang lebih bagus dari segi lensa yang digunakan, sensor, pemrosesan gambar, dan ukuran megapiksel yang lebih besar pula.

Bahkan untuk memproses gambar RAW di atas 20MP membutuhkan PC atau komputer yang mumpuni, makanya kenapa kamera wartawan atau fotografer olahraga ukuran megapikselnya sekitar 16MP, tentu untuk mempercepat proses foto-edit-cetak. Apakah kamera 16MP wartawan tadi biasa-biasa saja? Tentu saja tidak.

Hasil foto yang diambil oleh smartphone bermegapiksel besar dan lebih kecil tidak akan terasa perbedaannya pada foto dengan kondisi cahaya yang bagus (cahaya matahari bukan berawan), objek tidak terlalu dekat (2m atau lebih), tidak akan terlihat perbedaannya saat dicetak di kertas A5 atau lebih kecil, bahkan saat diposting di socialmediapun tidak akan terlihat perbedaannya.

Berlaku Juga untuk Pemilihan Kamera Digital

Masih ada yang beranggapan bahwa ketika membeli kamera digital itu harus memperhatikan besaran megapikselnya. Selain besaran megapiksel, biasanya mereka juga memperhatikan sensornya, orang beranggapan sensor CMOS lebih bagus daripada CCD. Padahal Leica sendiri masih memproduksi kamera sensor CCD saat ini. Bahkan kualitas kamera Nikon D3000 bersensor CCD yang pernah saya gunakan bisa menghasilkan gambar yang bagus.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, semakin besar megapiksel kameramu, justru akan menjadikan masalah buatmu. Megapiksel yang besar tentu berguna buat fotografer fashion, tapi apakah kamu benar-benar membutuhkan kamera tersebut?

Fotografer memilih kamera dan lensa karena fiturnya, maka dari itu buat awam yang menggunakan kamera sistem DSLR dan Mirrorless, mungkin perlu meninjau kembali akan kamu gunakan untuk apa kamera dan lensa yang akan kamu beli itu.

Belilah Pengalaman, Bukan Membeli Kamera

Hal yang membuat foto kamu menjadi semakin bagus adalah karena teknik fotografi yang telah kamu pelajari, bukan semata-mata karena kamera dan lensa yang mahal. Oleh karena itu saya lebih merekomendasikan supaya kamu membeli buku foto atau mengikuti workshop fotografi ketimbang berputar-putar di toko kamera online atau forum kamera.

Memang ada harga ada kualitas, tapi jangan korbankan uang kamu untuk sesuatu yang sebenarnya tidak kamu perlukan. Saya akui memang smartphone-smartphone mahal (bahkan yang flagship) lumayan mahal. Tapi tidak semuanya memiliki fitur yang sama. Saya suka menggunakan iPhone 5 untuk memotret karena shutter lag nya sangatlah kecil, jadi ketika memotret foto jalanan, saya tidak kehilangan momen.

Perlu diperhatikan juga apakah ISO, Shutter, dan fokus bisa diatur manual, karena tentunya beberapa foto bagus bisa didapatkan dengan pengaturan manual, tapi ini tidak wajib, karena belum tentu semua orang membutuhkannya. Saya pernah membeli aplikasi kamera pada iPhone saya untuk mengambil foto dengan pengaturan manual: iso, shutter, dan fokus. Tapi untuk memotret di jalan, saya malah lebih sering memotret menggunakan aplikasi kamera bawaan.

Akhir Kata

Saran saya yang mau membeli smartphone dan mengharapkan memiliki kamera yang bagus, perhatikan kelemahan dari setiap smartphone—jangan lihat dari besaran megapikselnya. Perhatikan aplikasi kamera bawaannya, karena walaupun sistemnya android, vendor smartphone membuat aplikasi kameranya sendiri.

Shutterlag pasti dimiliki setiap smartphone—yang bagus sekalipun. Shutterlag ini adalah lamanya proses ambil gambar setelah kita menekan tombol shutter di aplikasi kamera. Saya sendiri menggunakan iPhone karena shutterlagnya tergolong rendah—dan memang sudah sangat nyaman dengan aplikasi kamera bawaannya.

Bagaimana cara kita mencoba kamera smartphone yang tidak kita miliki? Cobalah pada smartphone teman anda, atau pada toko elektronik yang menaruh smartphone asli di display tokonya. Lebih baik tidak terburu-buru karena harga smartphone yang murah tapi megapikselnya besar, daripada nantinya anda malah menyesal.

Bacaan Lebih Lanjut

 

Related Posts