Saya dan Fotografi

Bicara mengenai fotografi, saya mulai serius dengan fotografi adalah saat saya menggunakan kamera SLR Nikon FM10 waktu kuliah dahulu kala, saat itu saya menghabiskan 2 exposure film karena satu roll dibagi beberapa buat anak-anak yang sedang mengikuti workshop fotografi dasar. Pada akhir-akhir masa kuliah baru saya bisa mencicipi namanya DSLR, saya meminjam Canon 1000D milik teman saya saat sedang melakukan perjalanan panjang ke nikahan teman di Indramayu.

Momen yang mengubah hidup saya adalah ketika saya memutuskan membeli kamera DSLR pertama saya di tahun 2013 (Nikon D3000 + Nikon 18-55mm). Semenjak itu fotografi menjadi bagian yang cukup penting dalam hidup saya.

Kemudian momen yang mengubah pandangan saya terhadap fotografi adalah ketika saya mulai menggunakan film 35mm di tahun 2015. Saya banyak menghabiskan exposure yang sia-sia, tapi namanya juga belajar, bukan? Akhirnya keputusan besar saya adalah menjual kamera Nikon D90 saya dan membeli kamera SLR film 35mm.

Selama menggunakan DSLR, saya tak lepas dari yang namanya GAS (Gear Acquisition Syndrome). Karena tak puas dengan beberapa lensa, dan kamera, akhirnya saya mencoba Nikon D90. Kamera yang luar biasa walaupun sedikit kuno. Bahkan saat mulai memotret film 35mm, saya masih tidak bisa lepas dari GAS tersebut, dari Olympus Trip 35, Nikon EM, Nikon F4 kemudian Olympus XA4, dan terakhir Nikon FM2n.

Saya bukan pemuja SLR, saya hanya kagum pada kemampuan SLR, saya kadang-kadang juga mengambil foto menggunakan kamera handphone dan kamera film poket. Hal yang saya pelajari selama terjangkit GAS adalah kemampuan bukan berasal dari gear yang digunakan, tapi teknik yang digunakan.

Saya dan Street Photography

Saya sebenarnya berkenalan dan mulai menggemari street photography yaitu pada tahun 2013, saat itu saya masih memiliki Nikon D3000. Saya mulai mengenali street photography setelah dikenalkan oleh teman saya waktu itu, dan hingga kini saya sangat menggemari bidang fotografi satu itu.

Hingga pada tahun 2016, saya lebih nyaman memotret menggunakan smartphone, yaitu iPhone 5. Nah justru pada saat menggunakan iPhone 5 inilah saya justru lebih mendalami street photography, dibandingkan ketika menggunakan Nikon D3000 maupun Nikon D90.

Kenapa iPhone 5? Tentunya karena budget saya, hehe, tapi tentunya lagi karena mobilitasnya yang sangat tinggi, saya bisa memotret dengan stealh mode di keramaian dengan menggunakan iPhone 5 tersebut. Semenjak awal tahun 2016 saya mengumpulkan foto-foto saya untuk photo project Jakarta Salaryman.

Pada akhir tahun 2016, saya memotret street photography menggunakan kamera Canon S95 hingga saat ini.

 

Related Posts